Informasi Seputar Kesehatan • TipsKesehatan.org

Kelainan His Kontraksi Persalinan Inersia Uteri

  • 694
Anda sedang membaca materi artikel yang membahas tentang Kelainan His Kontraksi Persalinan Inersia Uteri yeng diterbitkan di TipsKesehatan.org. jika Anda suka dengan Artikel atau Video ini silahkan like, bagikan, atau komentar.

Inertia Uteri adalah kelainan pada his yang kekuatannya tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong janin keluar ketika persalinan. Disini his memiliki kekuatan yang lemah dan memiliki frekuensi atau interval yang jarang, biasanya dijumpai pada pasien dengan riwayat kehamilan anemia, kehamilan hidramnion, makrosomia dan kehamilan kembar. Dapat terjadi pada kala pembukaan serviks, fase laten atau fase aktif maupun pada kala pengeluaran insersia uteri di bagi atas 2 kekuatan.

Inersia uteri dibagi atas 2 keadaan

1. Insersia uteri primer

Terjadi pada permulaan persalinan pada fase laten, sejak awal telah terjadi his yang tidak adekuat.

2. Insersia uteri sekunder

Terjadi pada fase aktif kala I dan kala II, permulaan his baik kuat, teratur dan dalam waktu yang lama, namun kemudian pada keadaan selanjutnya terdapat kelainan.

Untuk menegakkan diagnosis inersia uteri diperlukan pemantauan dan pengawasan yang teliti terhadap persalinan. Pada fase laten diagnosis akan lebih sulit, tetapi bila sebelumnya telah ada kontraksi (his) yang kuat dan lama, maka diagnosis inersia uteri sekunder lebih mudah. Inersia uteri menyebabkan persalinan akan berlangsung lama dengan akibat-akibatnya terhadap ibu dan janin.

Penanganan Inertia Uteri

Periksa keadaan serviks, presentasi dan posisi janin, turunya bagian terbawah janin dan keadaan panggul. Kemudian buat rencana untuk menentukan sika dan tindakan yang akan dikerjakan, misalnya pada letak kepala.

  1. Informed consent mengenai keadaan persalinannya saat ini, beri motivasi dan semangat.
  2. Perbaiki KU pasien, kosongkan kandung kencing serta rectum, apabila kepala atau bokong janin sudah masuk ke daam panggul, pasien di sarankan berjalan-jalan terlebih dahulu.
  3. Tentukan terlebih dahulu apakah pasien ini memiliki panggul sempit atau CPD? Bila inersia uteri disertai dengan disproporsi sefalopelvis maka sebaiknya dilakukan seksio caesarea (SC).
  4. Bila tidak ada CPD, untuk merangsang his selain dengan memecahkan ketuban dapat juga dengan diberikan infus IV oksitosin drips 5-10 satuan dalam larutan dekstrosa 5 % dimulai dengan kecepatan 12 tetes per menit, dan dapat dinaikkan perlahan setiap 10-15 menit hingga 40-50 tetes per menit. Maksud pemberian oksitosin adalah supaya serviks dapat membuka.
  5. Pemberian oksistosin tidak usah terus menerus, sebab bila tidak memperkuat his setelah pemberian lama, hentikan dulu dan ibu dianjurkan istirahat. Jangan lupa untuk observasi ketat terhadap pasien ini dan jangan ditinggalkan.
  6. Bila semula his kuat tetapi kemudian terjadi inersia uteri skunder, ibu lemah dan partus telah berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan 181 jam pada multi, tidak ada gunanya memberikan oksitosin drips; sebaiknya partus segera diselesaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan indikasi obtetrik lainnya (ekstraksi vakum atau forcep, atau seksio caesarea), dengan catatan bila syarat ekstraksi vakum dipenuhi, maka persalinan dapat segera diakhiri dengan bantuan alat tersebut.

Kasus persalinan dengan Inersia uteri dapat menyebabkan persalinan akan berlangsung lama atau disebut partus lama dengan akibat-akibat terhadap ibu dan janin seperti infeksi, kehabisan tenaga, dehidrasi, dll. Pengambilan keputusan secara cepat dan dengan tindakan yang tepat akan menolong pasien inertia uteri melahirkan dengan selamat.

Kelainan His Kontraksi Persalinan Inersia Uteri

Temukan informasi dan tips seputar Kelainan His Kontraksi Persalinan Inersia Uteri melalui website TipsKesehatan.Org. Berbagai tips kesehatan bisa juga anda simak melalui konten artikel dan video.

Artikel terkait Kelainan His Kontraksi Persalinan Inersia Uteri

DMCA.com Protection Status